Decision Making Style: Feeling vs Thinking


 
Sumber Gambar: Freepik
Gaya Pengambilan Keputusan: Perasaan Versus Logika

“Seorang siswa SMA diketahui bersalah dikarenakan mencuri sejumlah uang milik temannya, dan akhirnya kepala sekolah sekaligus teman dekat dari orang tua siswa tersebut memutuskan untuk mengeluarkannya dari sekolah, walaupun sebelumnya orang tua telah memohon kepada kepala sekolah untuk memberi keringanan dari hukuman yang diberikan, tetapi kepala sekolah tetap bersikukuh dan memberi hukuman kepada siswa tersebut sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, sehingga orang tua menilai kepala sekolah tersebut kejam dan tidak berperasaan”.

“Seorang pimpinan proyek mengetahui bawahannya tidak disiplin, sering manipulasi kehadiran dan telat hadir dikantor, namun pimpinan proyek tersebut belum pernah memberi sanksi sesuai aturan perusahaan kepada bawahannya yang tidak disiplin tersebut, yang dikarenakan pimpinan tersebut mudah terharu dan tidak sampai hati untuk memberi sanksi kepada bawahannya, sehingga pimpinan proyek tersebut dinilai oleh karyawan lainnya sebagai orang yang kurang tegas”.

Dari kedua ilustrasi fiksi diatas adalah perbandingan dari gaya pegambilan keputusan (Decision Making Style), yaitu orang yang mengambil keputusan  mengedepankan logika  (thinking) dengan pengambilan keputusan berdasarkan perasaan (feeling).

Pada teori MBTI (Myers-Birggs Type Indicator), menjelaskan  tentang gaya pengambilan keputusan yang dibedakan menjadi dua gaya (style), thinking versus Feelling. Ciri-ciri seseorang dengan  gaya pengambilan keputusan yang mengedepankan logika (thinking) yaitu; objektif, idealis, logis, adil, dan berorientasi kepada tugas (task oriented), berbeda halnya dengan yang mengedepankan perasaan (Feeling) yaitu; nilai-nilai manusiawi (value), cinta, empati, dan tentunya berorientasi kepada manusia atau lebih mementingkan hubungan keharmonisan antar manusia (people oriented).

Sumber Gambar: Penjajailmu.id

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali konflik antar individu terjadi salah satunya dikarenakan perbedaan dari kedua gaya pengambilan keputusan, baik dalam keluarga, pertemanan, atau dilingkungan kerja. bayangkan dalam sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai orang dengan tipe pengambilan keputusan yang berbeda berkumpul, dan masing-masing masih ego atau  merasa benar  terhadap gaya pengambilan keputusannya,  sudah tentu keputusan yang dibuat tidak akan menemukan titik temu, kalaupun menghasilkan sebuah keputusan akan menyisakan ketidakpuasan antar individu, hal ini dikarenakan masing-masing individu belum memahami lebih jelas tentang gaya dari keputusan, kelebihan maupun kekurangannya. Salah satu manfaat memahami dari teori MBTI tentang gaya pengambilan keputusan
adalah menjadikan seseorang mengerti dan memahami perbedaan antar individu (individual differences), serta menjadikan perbedaan gaya pengambilan keputusan untuk memperkaya ide dan gagasan dari hasil  keputusan yang dibuat.  

Idealnya Kita mampu mensinergikan dari kedua gaya pengambilan keputusan, yaitu menempatkan sesuai situasi dan kondisi, jika suatu kondisi dan situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan berdasarkan perasaan, kita mampu memberi keputusan yang lebih mengedepankan perasaan tetapi tetap logis, begitu juga dengan situasi yang membutuhkan logika, kita lebih mengedepankan logika tetapi tetap dengan sentuhan perasaan.



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Decision Making Style: Feeling vs Thinking"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel