Memahami Emosi

Memahami Emosi





"ah kamu bikin aku emosi aja"
"ah dasar manusia nyebelin, bikin orang emosi aja"
"nggak perlu emosi gitu dong, gue kan cuman bercanda"

kalimat di atas sering  terdengar di telinga kita, jika kita perhatikan, ternyata emosi hanya dipahami sebagai perasaan marah, padahal jika dilihat dari tinjauan teoritis emosi bersifat umum, secara sederhana dapat dipahami bahwa emosi  menunjukkan sejumlah perasaan, baik berupa sedih, bahagia, takut, jijik dan bahkan rasa bangga. Adapun pendapat para ahli, ada yang menyatakan emosi merupakan situasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, perasaan subjektif, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan, yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan (Wade, 2007). 



Emosi-emosi dasar
Secara garis besar, emosi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu emosi primer dan emosi sekunder. emosi primer dapat dipahami sebagai emosi yang bersifat umum, daftar emosi primer pada umumnya meliputi rasa takut (fear), marah (anger), sedih (sadness), senang (joy), terkejut (surprise), jijik (disgust) dan sebal (contempt). Scherer (dalam wade 2007) mengatakan bahwa  situasi yang membentuk emosi primer bersifat umum, misalnya seperti rasa sedih akan mengikuti persepsi kehilangan, rasa takut akan mengikuti persepsi ancaman atau disakiti, rasa marah akan mengikuti persepsi penghinaan dan ketidakadilan. lebih jelasnya, Boeree (2008) memaparkan bahwa kita bisa mengorganisasi atau mengelompokan emosi menjadi tujuh keluarga (kelompok dasar): 
a. Keluarga kejutan (surprise family): terejut, kaget, heran, bingung, kacau, terpukul (shock).
b. Keluarga takut (fear family): Takut, terancam, teror, cemas, ragu, hati-hati, curiga.
c. Keluarga Marah (anger family): Marah, gusar, frustasi, benci, sengit, iri, cemburu, muak, jijik, menghindar,    dongkol.
d. Keluarga sedih (sadness family): sedih, duka, depresi, putus-asa, kesepian, malu, hina, salah, menyesal.
e. Keluarga keinginan (eagerness family): ingin, antisipasi, senang, percaya diri, penuh harapan, rasa ingin tahu, minat.
f. keluarga kebahagian (happines family): kebahagiaan, gembira, senang, puas, puas-diri, bangga, cinta, kasih sayang, kasih, terhibur, humor, tawa.
g. keluarga kebosanan (boredom family): Bosan, jenuh, puas dengan sendiri.

Memahami Emosi
Paul ekman, dalam bukunya "Unmasking the face: A guide to recognizing emotion from facial expression (terj)" memaparkan bahwa cara yang terbaik untuk memahami emosi adalah lewat ekpresi wajah, karena wajah sebagai sebuah sistem multisinyal dan multipesan, lebih lanjut ia memaparkan wajah merperlihatkan tiga macam sinyal, yaitu statis (seperti warna kulit), lambat (seperti kerutan permanen), dan cepat (seperti ekpresi yang menaikkan alis), ketiga macam sinyal wajah tersebut dapat dimodifikasi atau disamarkan atas keinginan pribadi, misalnya seperti gaya rambut, oranamen-ornamen wajah seperti kacamata, janggut, kumis, dan yang paling ekstrem adalah bedah plastik, sehingga seeseorang dapat keliru dalam mengartikan sinyal-sinya tersebut, misalnya dengan menggunakan kacamata seseorang dapat terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, atau bahkan sebaliknya.
hal yang paling menarik pada ekpresi wajah adalah bukan hanya sebagai sitem multisinyal, tetapi juga sebagai sebuah sistem multipesan. wajah menyampaikan pesan-pesan emosi, suasana hati, sikap, karakter, inteligensi, ketertarikan, usia, jenis kelamin, ras, dan mungkin hal lainnya. contoh yang sederhana adalah lewat ekpresi wajah kita sudah mampu membedakan seseorang yang MR (mental retardation) ataupun seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan, seperti tatapan kosong atau ekpresi yang tidak lazim.  Ekman dan Friesen (2003) menyatakan bahwa hasil penelitian  telah membuktikan bahwa penilaian emosi yang akurat dapat dilakukan melalui sinyal-sinyal wajah cepat, dan baru-baru berhasil mengungkapkan sinyal wajah tertentu berdasarkan blue print atau acuan yang membedakan masing-masing dari emosi  utama. Blue print atau acuan dari emosi utama dapat berupa titik-titik dimana saja yang dominan pada wajah  ketika emosi umum di ekpresikan, misalnya ketika seorang sedang bahagia akan memperlihatkan bagian-bagian wajah mana  saja yang mengalami perubahan akibat adanya kontraksi otot-otot wajah untuk mengekpresikan emosi bahagia.
Ekman dan Friesen (2003)  memaparkan ketika seorang sedang bahagia akan mengaalami perubahan wajah pada titik-titik tertentu,yaitu:
a. sudut-sudut bibir ditarik ke belakang dan ke atas
b. senyum dengan mulut terbuka ataupun dirapatkan, dan  gigi tampak ataupun tidak.
c. kerutan terbentuk mulai dari hidung ke arah ujung luar belakang sudut bibir.
d. pipi terangkat.
c. kelopak mata bawah memperlihatkan kerutan dibawahnya, dan mungkin terangkat tetapi tidak tegang.
d. kerutan di sekitar mata mengarah ke luar dari sudut-sudut luar mata.


Ilustrasi blue print ekspresi emosi bahagia
Selain blue print ekspresi emosi bahagia, Ekman dan Friesen (2003) juga memaparkan berbagai blue print atau acuan untuk membedakan berbagai jenis emosi utama, seperti emosi sedih, marah, jijik dan lainnya (lebih lengkapnya silahkan merujuk ke buku aslinya). Ekman, Friesen, dan O'Sulivan (dalam Wade dan Tavris, 2007) menyatakan ketika seseorang berusaha menyembunyikan perasaan mereka dan mencoba menampilkan  emosi lain dengan yang sebenarnya mereka alami, mereka akan menggunakan kelompok otot yang berbeda dibandingkan otot yang digunakan pada emosi asli. sebagai contoh, saat sejumlah orang berpura-pura merasa sedih, hanya 15 persen dari mereka yang berhasil menirukan gerak alis, kelopak mata, dan kerutan dahi yang sesuai ekspresi sedih yang sesungguhnya. senyuman yang asli bertahan hanya 2 detik, sedangkan senyuman yang dibuat-buat bertahan selama 10 detik atau bahkan lebih.
 Seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa  cara yang terbaik untuk memahami emosi adalah lewat ekspresi wajah, dibandingkan melalui gestur tubuh. hal ini karena emosi diperlihatkan terutama pada wajah, bukan pada tubuh. Sedangkan tubuh menunjukkan bagaimana orang mengatasi emosi, dan taidak ada  pola gerak-gerik tubuh spesifik yang selalu mengisyaratkan marah dan takut, tetapi ada pola wajah yang spesifik untuk masing-masing emosi. jika seseorang sedang marah, mungkin secara gerak tubuhnya menunjukkan bagaimana dia mengatasi amarah tersebut, misalnya tubuhnya akan menjadi tegang dan tertahan, serta mungkin dibarengi dengan serangan verbal (gerakan tangan tertentu yang dibarengi kata-kata), atau kecenderungan serangan fisik (postur, orientasi, gerakan tangan). tetapi, setiap gerakan semacam ini  dapat terjadi ketika orang terjadi marah dan ketika sedang takut, sehingga gestur tidak dapat memberi informasi spesifik tentang ekspresi emosi. 
Meskipun ekspresi wajah memberikan berbagai informasi tentang seseorang, saya -penulis-  tetap menggolongkan physiognomy (ilmu yang menginterpretasikan kepribadian lewat bentuk wajah) dalam ranah pseudoscience (ilmu semu, yang tidak jelas metodenya dan diragukan keilmiahannya), karena untuk memahami emosi bukanlah hal yang praktis, instan dan sekedar teoritis saja, tetapi butuh pengalaman dan riset-riset ilmiah  yang memumpuni  dalam bidang emosi.

Sumber Bacaan:
Boeree, C George. 2007. General Psychology. yogyakarta: Prismasophie.
Wade, Carole dan Tavris, Carole. 2007. Psikologi. Jakarta: Erlangga.
Ekman, Paul dan Friesen, Wallace V. 2009. Buka Dulu Topengmu. Yogyakarta: Penerbit Baca.








Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Memahami Emosi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel