Skizofrenia



 Skizofrenia

Istilah skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu schizein dan phrenSchizen artinya untuk memecah, sedangkan phren artinya pikiran, sehingga dapat diartikan bahwa schizophrenia adalah kekacauan otak yang diartikan abnormalitas dalam persepsi atau ekspresi dari kenyataan. Istilah ini diciptakan oleh Eugen Bleuler (1857 – 1939) pada tahun 1908.
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan dopamine yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari sosialisasi normal. Pada umumnya penderita mengalami delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan panca indera). Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negatif seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.
Sekitar satu persen penduduk dunia akan mengidap skizofrenia pada suatu waktu dalam hidupnya. Di Indonesia diperkirakan satu sampai dua persen penduduk atau sekitar dua sampai empat juta jiwa akan terkena penyakit ini. Bahkan sekitar sepertiga dari sekitar satu sampai dua juta yang mengidap penyakit skizofrenia ini atau sekitar 700 ribu hingga 1,4 juta jiwa kini sedang mengidap skizofrenia. Perkiraan angka ini disampaikan Dr LS Chandra, SpKJ dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta Selatan.
Tiga per empat dari jumlah pasien skizofrenia umumnya dimulai pada usia 16 sampai 25 tahun pada laki-laki. Pada kaum perempuan, skizofrenia biasanya mulai di idap pada usia 25 hingga 30 tahun. Penyakit yang satu ini cenderung menyebar di antara anggota keluarga sedarah.

Definisi Skizofrenia
Sebelum membicarakan lebih dalam mengenai  skizofrenia, penulis akan membahas terlebih dahulu definisinya. Distorsi dalam persepsi dapat mempengaruhi semua lima indera, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman rasa, dan sentuhan, tapi paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran, delusi paranoid atau aneh, atau suara tidak teratur dan berpikir dengan disfungsi sosial atau pekerjaan yang signifikan. Timbulnya gejala biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan sekitar 0,4-0,6 % dari populasi yang terkena dampak. Diagnosa didasarkan pada diri pasien-melaporkan pengalaman dan mengamati perilaku.
Skizofrenia adalah suatu gangguan psikotis yang melibatkan delusi, halusinasi, cara bicara yang tidak tersruktur  (disebut sebagai word salad), perilaku yang tidak sesuai, dan gangguan-gangguan kognitif yang bersifat serius. Gejala-gejala lainnya, seperti kehilangan motivasi untuk mengurus diri sendiri dan kedataran emosional, dapat muncul sebelum episode psikotis dan dapat menetap, meskipun gejala-gejala lain yang lebih dramatis sudah mulai menghilang. Beberapa penderita skizofrenia mengalami catatonic stupor. Kasus-kasus skizofrenia memiliki gejala-gejala, tingkat keparahan, durasi dan prognosis spesifik yang berbeda-beda (carol wade, 2008: 371).
Sedangkan dalam DSM-IV dan DSM -IV-TR skizofrenia didefinisikan sebagai sekelompok ciri dari gejala positif dan negatif; ketidakmampuan dalam fungsi sosial, pekerjaan ataupun hubungan antar pribadi dan menunjukan terus gejala-gejala ini selama paling tidak 6 bulan. Se bagai tambahan, gangguan skizoafektif dan gangguan afek dengan gejala psikotik tidak dide finisikan sebagai skizofrenia dan juga skizofrenia tidak disebabkan oleh karenan efek langsung karena psikologi dari zat atau kondisi medis.

Kriteria DSM-TR
Di dalam DSM, memuat kriteria skizofrenia sebagai berikut:
A. Terdapat 2 atau lebih gejala kareakteristik, yang masing-masing ditemukan untuk Sebagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang bila berhasil  diobati).  Gejala karakteristik tersebut berupa:


1. Waham
2. Halusinasi
3. Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren)
4. Perilaku  terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
5. Gejala negatif, yaitu afek datar, alogia, atau tidak ada kemauan (avolition)

Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau  atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari  perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.
B. Disfungsi sosial atau pekerjaan untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik,  atau pekerjaan yang diharapkan).
C.  Durasi tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurang-kurangnya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodomal atau residual, tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala  negatif atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang diperlemah  (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim ).
D.  Penyingkiran ganguan skizoafektif dan gangguan suasana perasaan, Gangguan  skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena:

1.  Tidak ada episode  depresif  berat, manik, atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase  aktif; atau
2.  Jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relatif  singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.

E. Penyingkiran zat / kondisi medis umum: Gangguan tidak disebabkan oleh afek biologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu medikasi)  atau  suatu kondisi medis umum.
F. Hubungan dengan perkembangan pervasif: Jika terdapat riwayat adanya gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif  lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol  juga ditemukan  untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).
Gejala pada skizofrenia
1. Gejala positif skizofrenia
  •   Delusi adalah keyakinan keliru yang dipegang teguh karena adanya distorsi atau melebih-lebihkan pemikiran atau kekeliruan dalam menafsirkan terhadap persepsi atau pengalaman
  • Halusinasi adalah distorsi persepsi pada indera, halusinasi auditori adalah ciri yang paling umum, yang di ikuti dengan halusinasi visual.
  • Ucapan atau pikiran yang kacau, juga di gambarkan sebagai “gangguan pemikiran “ atau “asosiasi yang tidak terkendali”, yang merupakan aspek utama skizofrenia. Pikiran yang kacau dapat dilihat pada ucapan seseorang.
  • Perilaku katatonis yang dicirikan dengan penurunan reaksi terhadap lingkungan sekeliling, kadang-kadang berupa keterpakuan  dan ketidakpedulian yang tampak jelas, postur yang kaku atau aneh, atau aktivitas motorik yang berlebihan dan tanpa tujuan.
2. Gejala negatif skizofrenia
Gejala negatif pada skizofrenia biasanya menunjukkan ketiadaan atau tidak mencukupinya perilaku normal. Gejala-gejala ini itu termasuk menarik diri secara emosional maupun sosial, apatis, miskin pembicaraan atau pemikiran. Kira-kira 25% penderita skizofrenia memperlihatkan gejala-gejala ini (Durand & barlow, 2007: 235).
  • Avolisi, Kata avolition (avolisi) berarti ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan berbagai macam kegiatan. Avolisi (avolition) adalah reduksi, kesulitan, atau ketidakmampuan untuk memprakarsai dan bertahan dalam perilaku yang memiliki tujuan. Penderita gejala ini (yang juga disebut apathy) menunjukkan minat yang rendah untuk melakukan sesuatu, bahkan fungsi-fungsi dasar sehari-sehari, termasuk kesehatan pribadi. Alogia, atau miskin bicara, adalah kurangnya kelancaran dan produktivitas bicara, yang dianggap mencerminkan pemikiran yang lamban, dan biasanya termanifestasi dalam bentuk jawaban pendek dan kosong. Orang dengan alogia mungkin merespons pertanyaan dengan jawaban-jawaban pendek yang isinya terbatas dan mungkin tampak tidak tertarik untuk bercakap-cakap (Durand & barlow, 2007: 235).
  • Anhedonia, gejala lainnya adalah anhedonia, yakni ketiadaan perasaan senang yang dialami oleh sebagian penderita skizofrenia. Seperti halnya beberapa macam gangguan suasana perasaan, anhedonia memberikan  isyarat sikap tidak peduli terhadap kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, termasuk makan, interaksi sosial dan hubungan seksual (Durand & barlow, 2007: 236).
  • Afektif datar adalah reduksi dalam rentang intensitas ekspresi emosional yang meliputi ekspresi wajah, nada suara, kontak mata, dan bahasa tubuh. Pengekpresian afek – atau ketiadaan atau kekurangan ekspresi ini- mungkin merupakan gejala penting bagi perkembangan skizofrenia. Kira-kira seperempat penderita skizofrenia memperlihatkan apa yang disebut dengan afek datar. Mereka seperti orang yang mengenakan topeng karena tidak memperlihatkan emosi pada pada saat mereka semestinya memperlihatkannya. Para peneliti menyimpulkan  bahwa afek datar  dalam skizofrenia  mungkin mempresentasikan kesulitan dalam mengalami emosi, dan bukan karena mereka tidak perasaan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Skizofrenia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel